Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJul 9, '08 3:47 PM
by Sonny for everyone

Akhir abad ke-15, melalui Walisongo, Islam semakin menyebar luas di Jawa. Namun, ada satu wilayah yang saat itu masih hutan belantara, mayoritas penduduknya masih belum beragama Islam. Daerah itu bernama Bagelen, yang pada saat itu meliputi wilayah Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo, dan Kutoarjo.

Datanglah Sunan Kalijaga ke wilayah itu. Saat masuk ke Bagelen, ia konon bertemu tukang nderes atau pencari nira kelapa yang bernama Cakrajaya. Kagum dengan tingginya ilmu Sunan Kalijaga, Cakrajaya bermaksud berguru.

Sunan Kalijaga menyuruh Cakrajaya bersamadi di dekat Sungai Bagawanta, lalu meninggalkannya sendiri. Setahun kemudian, ia bersama muridnya datang ke dekat sungai tempat Cakrajaya bertapa. Namun, di tempat itu tak terlihat apa-apa, kecuali rerumputan liar. Sunan Kalijaga menyuruh muridnya membakar rerumputan liar itu.

Ternyata, Cakrajaya yang tak lain keturunan Nyai Ratu Bagelen masih bertapa di tempatnya semula. Namun karena tempatnya dibakar, punggung Cakrajaya gosong. Sejak saat itulah, Cakrajaya yang dikenal memiliki ilmu agama yang teguh disebut dengan Sunan Geseng (dari kata gosong).

Melalui Sunan Geseng inilah dakwah agama Islam di Kadipaten Bagelen berkembang. Sebagai murid Sunan Kalijaga, gaya dakwah Sunan Geseng pun tak berbeda dengan metode gurunya, yakni mengakomodasi ajaran Syiwa-Buddha dalam Islam. Terjadilah akulturasi. Akulturasi ini menghasilkan komunitas Islam-Kejawen yang kuat di Bagelen. Komunitas ini masih bertahan hingga kini.

"Di Bagelen, yang termasuk sekarang di Purworejo, banyak penganut Kejawen. Tetapi, mereka beragama Islam. Adat dan tata cara Jawa, seperti menjamas pusaka, menghormati pepunden, dan kepercayaan akan sengkala Jawa masih dipertahankan, meski mereka itu shalat," ujar Oteng Suherman, pakar Sejarah Purworejo yang lama mendalami Komunitas Bagelen.

Perpaduan Islam-Jawa ini menjadikan masyarakat Bagelen memiliki karakter khas. Sejak dulu warga Bagelen dikenal pemberani, jujur, setia, dan berjiwa besar. Tak ayal bila Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama), banyak merekrut orang Bagelen untuk perang melawan adipati di Jawa Timur yang menolak tunduk.

Pada zaman kolonial Belanda, Bagelen adalah medan tempur Pangeran Diponegoro. Banyak prajurit Diponegoro dari Bagelen. Bahkan, di sini pulalah tentara Belanda banyak yang terbunuh.

Syiwa-Buddha

Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.

Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.

Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.

Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.

Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.

Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.

Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.

Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.

Masih tampak

Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

"Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera," tuturnya.

Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.

Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.


rommyramadhan wrote on Oct 3, '08
boss, thx banget tulisan ini. penting banget buat aku dalam mencari jejak leluhur.
rommyramadhan wrote on Oct 3, '08
ada yang tahu gak tentang Nyai Bagelen? aku butuh informasinya yang lebih lengkap. Siapakah Nyai Bagelen sesungguhnya? Benar gak dia Pranoto Adi Acoro di kerajaan Mataran kuno? kenapa dia menetap di Bagelen?
dedekhartanto wrote on Jan 5, '09
Bos.....mau tanya ada informasi tentang Temenggung Wongsonegoro I s.d VI demang banyu urip ga......saya lahir di jakarta tapi bapak saya lahir di purworejo tepatnya di desa sumber sari kecamatan banyu urip (belakang KORAMIL Banyu urip), mbah saya kasanredjo dari istri kedua berputra : Walyadi di Batam, Walyono di desa sumber sari banyu urip, Saryono di Jakarta, Bulik Mus di Tanggerang, kalo ada tolong dong...di kirim ke dedekhartanto@yahoo.com,trims
b1gban9 wrote on Jan 8, '09
Pada waktu Pulau Jawa ini masih berdiri kerajaan Mataram. Ada seorang Prajurit Wanita yang sangat sakti. Pusaka andalannya adalah "Sapu Regel". yaitu sapu-lidi yang sudah usang. Konon kalau menghadapi musuh-musuhnya hanya dengan memutar-mutar sapu-lidi tersebut akan menimbulkan angin ribut yang sangat dahsyat. Pada suatu waktu terjadi pemberontakan di wilayah Menoreh. Prajurit Wanita tersebut memimpin pasukan untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh Kiai Dadung Awuk dari Menoreh. Dadung Awuk berhasil dibunuh oleh Prajurit Wanita tersebut.

Sebagai hadiah dari penguasa Mataram, Prajurit Wanita itu diberi sebuah wilayah dan dibebaskan dari pajak upeti kerajaan. Yang kemudian wilayah itu diberi nama Bagelen. dan dinyatakan sebagai Tanah Perdikan, yang artinya tanah dibebaskan dari pajak upeti dan diberi hak khusus. dan Prajurit Wanita itu menjadi kepala daerah dengan menggunakan nama: Nyai Ageng Bagelen.

Salah satu legenda-nya yang menarik adalah: ketika Nyai Ageng Bagelen sudah berumah tangga, dia memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Kebiasaan wanita/ibu rumah tangga pada waktu itu adalah membatik, yaitu membuat pola-pola kain batik. Pada waktu itu tidak dikenal (maaf) BH. Sehingga ketika sedang membatik, sekali lagi maaf, payudara-nya dibiarkan berjuntai. Tiba-tiba, salah seorang putera-nya yang masih kecil pulang dari bermain, menyusu dari belakang. Karena sedang konsentrasi membatik, Nyai Ageng marah karena terkejut sehingga keluar kata-kata: "Kamu ini seperti pedet (anak-lembu), menyusu tanpa bilang terlebih dahulu". Apa yang terjadi kemudian? Konon karena dia adalah orang yang sakti, puteranya berubah menjadi anak lembu. Betapa terkejut dan sedihnya hati Nyai Ageng ketika menyadari semua itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kata-katanya tidak bisa ditarik lagi. Akhirnya dia berpesan kepada warga Tanah Perdikan untuk selanjutnya dilarang memelihara lembu.
ditodewanto wrote on Apr 1, '10, edited on Apr 5, '10
malem saya butuh bantuannya kalau ada yg punya foto nya or lukisan sunan geseng mau dong saya pengen bgt tahu bagaimana rupa dari leluhur saya. tx ya...kalau ada boleh dong kirim email ke silvermoonoverocean@gmail.com...
tjokrow2011 wrote on Mar 20, '11
aoh gitu yah ceritanya,kalau di runut dari keturunan,ayahku sering cerita kalau beliau itu katanya masih keturunan dari tumenggung tambak buaya (bagelen),konon makam leluhur ayahku itu ada di sana(katanya),nama ayahku R.Tjokrowidjojo.

Nah! apa masih ada turunan gitu sama Tjokrodjojo alias sunan geseng?,hehehe....narsis amat sih aku,tapi kalau melihat sifat ayhku yang memang jujur (kata orang),terus sederhan lagi hidupnya percis kaya sunan geseng penderes nila itu lho,kenapa ya begitu?

Aku juga anaknya nga ngerti kenapa,yang jelas ayahku itu sekarang pengsiunan pegawepamong praja di cimahi,beliau mengabdi dari pertama sebagai upas Kecamatan Cimahi,sampai menjadi pejabat eselon 5,malah banyak menerima penghargaan dari mana-mana,pernah jadi pegawai teladan di KOTIP CIMAHI pada jamannya Bupati nya pak Sani Lupias.Kalau di hitung-hitung sertifikat penghargaannya itu ada 18 lembar,beliau sampai saat ini masih menyimpannya baik-baik,termasuk aku baca ada penghargaan dari mentri Dalam negri juga ,tapi bapak ku ini sangat Low Profil dan sederhana sekali hidupnya,saking sederhananya sampai saat ini beliau masih ngontrak rumah(gak punya rumah),jadi seorang kontraktor sejati dan abadi kaliiieeee...

Aku juga heran mengapa beliau tidak sama dengan yang lainnya (teman sejawatnya),bahkan tinggkat ekonominya bisa di bilang kalah sama anak buahnya,beliau selalu jalan kaki kemana-mana saat menjalankan tugasnya,aku ingat dulu ketika kecil pernah di bonceng speda oleh beliau,itu juga speda inventaris ketika menjabat sebagai juru tulis Kecamatan,setelah itu..?,beliau tak pernah lagi berkendaraan sampai pensiunnya (seb,pejabat eselon 5).

Aku masih ingat ketika ayah ku masih tugas,beliau sering diamanahi tugas yang cukup berat hingga siang malam beliau kerja,pekerjaan sering di bawa kerumah,aku dan kakak-ku sering membantu menyelesaikan tugas beliau,padahal beliau punya anak buah,tapi tugas yang rumit tidak pernah di serahkan kepada anak buahnya,selalu di bawa kerumah dibantu sama anak-anaknya.

Pernah aku tanyakepada beliau,mengapa anak buahnya tidak di berdayakan,jawabannya sederhana sekali yaitu;"takut salah,nanti yang repot bapak juga kalau pekerjaannya di balikin lagi oleh petugas di Kabupaten.Beliau sering di amanahi menjadi Bendahara,malah Proyek INPRES sering beliau Pegang,aku pernah bengkak kakiku semalaman ngetik SPJ dan kwitansi Proyek SD INPRES se Kecamatan Cimahi,aku juga sering melihat ayahku bawa uang banyak dari BANK ke rumah untuk di bagikan kepada Pengelola Proyek SD INPRES,pada saat yang sama ibuku sibuk membuat kue jajanan untuk memenuhi kebutuhan hidup alias resiko dapur.

Suatu saat setelah ayahku selesai mendistribusikan uang Proyek kepada yang berhak,aku nanya :''Pak ,ada dong buat aku upah ngetik SPJ " ,maka Jawabannya;"wah udah abis di bagi-bagikan karena itu bukan uang kita,itu uang amanah dari negara untuk Pembangunan SD INPRES"

Lalu aku nanya lagi;"nah kalau bapak gak punya bagian?,yah bapak paling suka dapet dari upah ngetik itu"

Penasaran aku tanya lagi:"nah kalau Pak Camat sama Pak Mentri Polisi itu apa perannya,kok suka kerumah bapak kalo Proyek sudah beres?".jawabannya:"yah kan mereka yang tanda tangan hasil pekerjaan bapak",penasaran aku juga terus nanya sampai detail:"mereka dapet ga bagian dari tanda tangan doang",Jawabnya;" yah justru mereka yang dapet gede ",katanya.

MEG!!!.hatiku enek,kalau aku baru tahu ternyata bapakku itu kerja siang malam itu yang dapat uangnya itu hanya para pemimpinnya yang cuma ngasih tanda tangan doang,itulah sebuah potret ketidak adilanyang di terima dari seorang pejabat eselon 5 yang JUJUR POLOS tersebut.Ayahku rela keluarganya menderita demi mengabdi kepada negara,akan tetapi kejujuran dan pengabdiannya itu hanya menyenangkan para pemimpinnya saja,karena ayahku jujur dan lugu.Sering keluarga mendapatkan penderitaan yang sangat,sampai ga punya beras untuk makan anak-anaknya,gajih habis untuk potongan bayar utang,itu sebabnya ibuku sering uring-uringan karena bingung tak cukup bayar utang.

Namun di sisi lain,para pemimpin sibuk menikmati hasil keringat bawahannya,asyik pergi mancing dsb.Apa lagi Bapak Persiden (PAK HARTO ).yang pada saat itu sibuk membangun Ekonomi keluarganya untuk tujuh turunan,padahal anak buahnya sebagai pegawe kecil di Pemerintahan bertatih-tatih menjalankan tugas negara sambil di terpa kesulitan Ekonomi.

Pantas saja banyak yang Korupsi,karena memang gajih tidak cukup untuk kebutuhan hidup,seandainya bapakku bukan dari keturunan orang Bagelen(katanya),mungkin sudah kaya raya hasil Korupsi,seperti juga pejabat yang lainnya.

Sekarang aku baru sadar,mengapa ayahku sampai saat ini hidupnya sangat sederhana,karea tidak mau korupsi!!!,namun demikian,justru itulah yang menjadi kebanggaan aku saat ini,sebab ayaku tidak Stress di kejar-kejar KPK seperti pejabat yang lainnya.

Itulah nasib seorang putra Bagelen di tanah rantau.
joeylampung wrote on May 8
Di Lampung juga ada Desa Bagelen, yang saat ini posisi Desa Bagelen berada di pusat Ibukota Kabupaten Pesawaran, Gedong Tataan.
Desa Bagelen di Lampung berdiri pada tahun 1905, sebagai wilayah kolonisasi pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda, dimana penduduk Desa Bagelen berasal dari Kabupaten Bagelen di Karesidenan Kedu, wilayah Kerajaan Mataram. (Joey Lampung Banget)
joeylampung wrote on May 8
Di Lampung juga ada Desa Bagelen, yang saat ini posisi Desa Bagelen berada di pusat Ibukota Kabupaten Pesawaran, Gedong Tataan.
Desa Bagelen di Lampung berdiri pada tahun 1905, sebagai wilayah kolonisasi pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda, dimana penduduk Desa Bagelen berasal dari Kabupaten Bagelen di Karesidenan Kedu, wilayah Kerajaan Mataram. (Joey Lampung Banget)
Add a Comment
   
warung kopi waridjan (saresehan budaya)
Join this Group!Add to My Yahoo
Report Abuse